fbpx

PLASMA KONVALESEN SALAH SATU MODALITAS TERAPI COVID-19

Truely Panca Sitorus

Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Respirologi dan Penyakit Kritis RSCM/FK-UI, Jakarta, Indonesia

Korespondensi: Truely Panca Sitorus. RSCM/FKUI. Email : truelysitorus@gmail.com

 

Suatu penyakit infeksi baru disebabkan oleh virus corona yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, Cina pada Desember 2019. Penyakit ini ditetapkan sebagai pandemi di bulan Januari 2020. World Health Organization (WHO) mengumumkan nama resmi dari penyakit tersebut sebagai novel coronavirus 2019. Tak lama kemudian, International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV) mengeluarkan istilah ilmiah baru sebagai SARS CoV-2. Virus tersebut termasuk genus betacoronavirus seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Nama SARS CoV-2 muncul dikarenakan gejala yang ditimbulkan berupa gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk dan sesak napas. Penyakit yang disebabkan oleh virus SARS CoV-2, yang saat ini dinamakan COVID-19, merupakan singkatan dari CO mewakili dari kata Corona, VI mewakili kata virus, D mewakili kata disease atau penyakit yang terjadi pada tahun 2019.1,2

Saat ini, jumlah kasus sudah menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Berdasarkan data Badan Satuan Tugas COVID-19 tanggal 17 November 2020 ditemukan 474.455 kasus terkonfirmasi diikuti kasus kematian sebanyak 15.393 dengan Case Fatality Rate (CFR) 3.2%. Bukan hanya di Indonesia, kasus ini sudah tersebar di 220 negara, tercatat sekitar 54 juta kasus terkonfirmasi dengan jumlah kematian 1.320.148 jiwa. Jumlah ini terus meningkat seiring perkembangan modalitas terapi untuk menangani kasus COVID-19 oleh para ahli. Situasi ini sangat berdampak pada kesejahteraan pasien. Kondisi ini yang mendorong pemerintah untuk melakukan berbagai upaya dan penanggulangan kasus ini. Upaya yang berkembang pesat saat ini adalah munculnya berbagai penelitian dan berbagai literatur terkait pilihan terapi yang dapat dipertimbangkan pada terapi COVID-19. Walaupun pedoman protokol pengobatan sudah diterbitkan, tetapi pengobatan saat ini masih bersifat suportif sesuai kriteria klinis pasien.2,3

Walaupun ketahanan virus di atas permukaan belum dapat dipastikan, tetapi virus ini memiliki kemiripan dengan jenis-jenis coronavirus lainnya. Doremalen menunjukkan SARS CoV-2 bertahan 3×24 jam pada permukaan plastik dan stainless steel, kurang dari 4 jam pada tembaga, kurang dari 24 jam pada kardus. Sensitif terhadap sinar ultraviolet dan panas.4

Bagian dari Protein S dari SARS CoV-2 berikatan dengan angiotensin converting enzyme-2 (ACE-2) sebagai wahana untuk menjadi pintu masuk virus untuk menginfeksi sel. ACE-2 dapat ditemukan pada mukosa rongga mulut dan rongga hidung, dinding belakang rongga mulut, paru, lambung usus halus, usus besar, kulit, timus, sumsung tulang, hati, ginjal, otak, sel epitel alveolar paru, sel endotel arteri vena, dan sel otot polos. Multiplikasi berlanjut di saluran pernapasan bawah dan mukosa gastrointestinal sehingga menimbulkan penyebaran virus ke seluruh tubuh yang masih ringan. Ketika proses infeksi masih bisa dikendalikan (imunitas cukup kuat), pasien tidak menunjukkan gejala (asimtomatik). Antibodi yang terbentuk yaitu IgM dan IgG. Antibodi IgM akan menghilang pada akhir minggu ke-12 dan antibodi IgG sebagai proteksi akan berada pada waktu yang cukup lama.6

Penyebaran virus ditransmisikan melalui droplet atau percikan air liur, kontak langsung dan benda yang terkontaminasi. Saat ini, belum banyak bukti menunjukkan bahwa hewan merupakan sumber penularan COVID-19. COVID-19 memiliki masa inkubasi rata-rata 5-6 hari dengan range antara 1-14 hari namun dapat mencapai lebih dari 14 hari. Risiko penularan tertinggi diperoleh di hari-hari pertama penyakit disebabkan oleh jumlah virus pada produksi lendir dari tenggorokan yang tinggi. Orang yang terinfeksi dapat langsung menularkan sampai dengan 48 jam sebelum dimulainya gejala dan sampai dengan 14 hari setelah gejala.1

Belum ada pengobatan spesifik anti-COVID-19 yang direkomendasikan untuk pasien konfirmasi COVID-19. Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan secara resmi memulai penelitian Uji Klinik Terapi Plasma Konvalesen pada pasien COVID-19 pada Selasa, 8 September 2020.2

Paparan Direktur Lembaga Molekuler Eijkman Prof. Amin Soebandrio memaparkan bahwa Plasma konvalesen merupakan imunisasi aktif, menggunakan plasma pasien yang sudah sembuh dari COVID-19 dan diberikan kepada penerima donor. Pengambilan plasma dilakukan pada pendonor yang sehat dan berjenis kelamin laki-laki dikarenakan tidak memiliki antigen HLA. Antigen tersebut merupakan suatu protein yang diduga berkaitan dengan proses pembekuan darah, sehingga ketika ditransfusikan kepada pasien berisiko terjadinya komplikasi reaksi transfusi mulai dari yang ringan sampai berat yaitu kematian.6

Plasma konvalesen telah digunakan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan angka kesembuhan pada pasien yang kondisinya terus memburuk. Hingga saat ini, penelitian terkait plasma konvalesen pada pasien COVID-19 masih sedikit dan sampel penelitian terbatas pada kasus berat dan kritis. Mair-jenkins dkk menyimpulkan terjadi penurunan angka mortalitas setelah diberikan plasma konvalesen dengan dosis yang berbeda-beda. Penelitian ini tidak menunjukkan adanya efek samping setelah diberikan terapi. Laporan kasus Shen C dkk melakukan terapi plasma konvalesen terhadap lima pasien COVID-19 dengan derajat berat menunjukkan luaran berupa gejala klinis yang berangsur-angsur membaik. Alasan yang dapat menjelaskan mengapa plasma konvalesen efektif adalah antibodi dari plasma konvalesen dapat menekan jumlah virus dalam darah. Secara teori plasma konvalesen sebaiknya diberikan pada tahap awal gejala penyakit.7,8

Menurut Martin dkk, pemberian plasma konvalesen harus diberikan oleh dokter yang kompeten. Terapi ini disarankan pada kasus terkonfirmasi atau kasus probable, berusia 18 tahun keatas, dalam 14 hari pertama sakit dan 7-19 hari setelah gejala dimulai. Dosis awal yang dianjurkan adalah 200 cc per unit, pemberian kedua dapat diberikan 48 jam setelah dosis awal dan dapat diberikan hingga maksimum 3 unit atau 600 cc plasma.9

Selain manfaat terapi, terdapat efek samping atau komplikasi yang dapat ditimbulkan seperti demam, reaksi alergi, penyempitan saluran pernapasan, sampai terjadinya transfusion-related acute lung injury (TRALI) yaitu cidera pada paru-paru akibat reaksi transfusi. Sejauh ini belum ada efek samping berat yang muncul pada beberapa literatur pemberian plasma konvalesen.8,10

Belum ada pengobatan spesifik anti-COVID-19 hingga saat ini sehingga plasma konvalesen menjadi pertimbangan sebagai salah satu modalitas terapi untuk meningkatkan angka kesembuhan pada pasien yang kondisinya terus memburuk. Walaupun literatur terkait plasma konvalesen masih terbatas, proses perkembangan terapi ini masih berlanjut. Laporan kasus dan penelitian-penelitian memaparkan efek positif tehadap kondisi pasien.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. National Center for Immunization and Respiratory Diseases (NCIRD)Division of Viral Diseases [Internet]. CDC. 2020 [disitasi 20 November 2020]. Diakses dari: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/cdcresponse/about-COVID-19.html
  2. Kemenkes RI. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). 2020
  3. SATGAS COVID-19. [Internet]. Satuan Tugas Penanganan COVID-19. 2020 [disitasi 17 November 2020]. Diakses dari: https://covid19.go.id/peta-sebaran
  1. Doremalen N, Bushmaker T, Morris DH, Holbrook MG, Gamble A, Williamson BN, et al. 2020. Aerosol and Surface Stability of SARS-CoV-2 as Compared with SARS-CoV-1. N Engl J Med. 2020 Apr 16;382(16):1564-1567. doi: 10.1056/NEJMc2004973.
  2. Jin Yuefei, et al. Virology, Epidemiology, Pathogenesis, and Control of COVID-19. Viruses.2020, 12, 372; doi:10.3390/v12040372.
  3. Mousavizadeh L, Ghasemi S. Genotype and phenotype of COVID-19: Their roles in pathogenesis. Journal of Microbiology, Immunology and Infection, 2020. https://doi.org/10.1016/j.jmii.2020.03.022.
  4. Chen L, dkk. Convalescent plasma as a potential therapy for COVID-19. The Lancet. 2020; 20: 398 – 400.
  5. Shen C, dkk. Treatment of 5 Critically Ill Patients with COVID-19 with Convalescent Plasma. JAMA. 2020
  6. Rumende M, Susanto E, Sitorus T. The Management of Cytokine Storm in COVID-19. Acta Medica Indonesia. 2020
  7. KK-W, Tsang OT-Y, Leung W-S, Tam AR, Wu T-C, Lung DC, et al. Temporal profiles of viral load in posterior oropharyngeal saliva samples and serum antibody responses during infection by SARS-CoV-2: an observational cohort study. The Lancet Infectious Diseases 2020.

 

Profil Penulis

Email: truelysitorus@gmail.com

Saya dr. Truely Panca Sitorus merupakan seorang dokter umum. Saya seorang Study Coordinator di Departemen IPD-RSCM/FKUI Divisi Respirologi dan Penyakit Kritis serta Rematologi, sebagai koordinator akademik dan mentor di instansi bimbingan belajar kedokteran, menjadi dokter umum di salah satu RS di Jakarta.

Scientific Editor : dr.Sarah Chairani Zakirah. Head of Research and Scientific Division of Mediccation. email : sarahchairanizakirah93@gmail.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *