fbpx

Pentingnya Keseimbangan Nutrisi Untuk Kesehatan Mental

Clara Darlene Wangsahardja1

1The University of Queensland, Brisbane Australia

Korespondensi : Clara Darlene Wangsahardja. The University of Queensland, Brisbane Australia. Email : claradarlene6@gmail.com

 

Kesehatan mental adalah salah satu aspek terpenting di dalam kehidupan seseorang karena menyangkut berbagai aspek kehidupan lainnya termasuk karir, hubungan sosial dan hubungan keluarga [1]. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa “Kesehatan adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang lengkap dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan” [1]. Sesuai dengan definisi diatas, kesehatan yang utuh tidak dapat tercapai tanpa kondisi kesehatan mental yang optimal. Namun, pada kenyataannya, angka kejadian pasien yang mengalami gangguan jiwa di dunia semakin meningkat, termasuk di Indonesia [2-3]. Menurut Laporan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS), prevalensi penduduk yang mengalami gangguan mental emosional atau distres psikologis meningkat dari 6.0% pada tahun 2013 ke 9.8% pada tahun 2018 [3-4]. Selain itu, Laporan RISKESDAS 2018 juga menunjukkan bahwa 6.1% penduduk Indonesia menderita depresi [3]. Keadaan ini sangat mengkhawatirkan terutama jika persentase pasien gangguan jiwa terus meningkat dan tidak ditanggulangi dengan benar oleh pihak yang berwenang.

 

Gangguan kesehatan mental yang diderita oleh banyak masyarakat di seluruh dunia adalah depresi dan anxiety disorder [5]. Depresi adalah gangguan jiwa dimana seseorang mengalami kesedihan yang tidak berkesudahan dan kekurangan kesenangan terhadap hal-hal yang tadinya digemari dan dinikmati oleh orang tersebut [1]. Selain itu, penderita depresi juga mengalami perasaan bersalah, gangguan tidur, nafsu makan yang tidak menentu, perasaan lelah dan konsentrasi yang buruk secara terus-menerus [2]. Saat ini, depresi adalah penyebab utama disabilitas di seluruh dunia [2,6]. Sementara itu, anxiety disorder (gangguan cemas) adalah istilah untuk sekelompok gangguan jiwa yang berkarakteristik perasaan cemas dan takut yang terus menerus dan berlebihan [7]. Anxiety disorder berbeda dengan kegelisahan sesekali yang dialami oleh manusia pada umumnya [7]. Biasanya, orang yang menderita penyakit depresi akan lebih rentan terhadap penyakit anxiety disorder [8]. Pada umumnya, kedua gangguan jiwa tersebut dapat dialami seseorang secara bersamaan [8]. Gejala yang dialami pasien gangguan jiwa depresi dan anxiety disorder bisa berulang secara sesekali ataupun terus-menerus [2]. Kadar gejalanya juga tak menentu dari gejala ringan sampai gejala yang lebih parah [2]. Menurut laporan WHO, kedua penyakit ini lebih banyak diderita oleh wanita dibandingkan dengan pria [2]. Alasan untuk pernyataan tersebut tidak dapat dipastikan hingga saat ini, karena ada banyak faktor penentu dan variabel lainnya yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang [9].

 

Gangguan kesehatan mental dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor seperti kesendirian, stres yang tidak berkesudahan, diskriminasi, kekerasan fisik, verbal atau seksual dan kerentanan profil genetik seseorang [1,10]. Selain itu, gaya hidup yang tidak sehat seperti asupan gizi yang tidak seimbang juga termasuk salah satu faktor penentu terhadap kesehatan mental seseorang [5,11-14]. Banyak penelitian sebelumnya menyatakan bahwa distres psikologik atau gangguan jiwa emosional dapat mengubah pola makan seseorang secara negatif [15-16]. Namun, beberapa riset belakangan ini juga menemukan dampak kualitas pola makan seseorang terhadap kesehatan mental [12,15-18]. Namun hingga saat ini, belum ada kepastian hubungan sebab dan akibat antara ketidakseimbangan nutrisi dan gangguan kesehatan mental seseorang. Walaupun demikian, asupan gizi adalah salah satu faktor yang dapat dimodifikasi untuk menjaga dan mengoptimalkan kesehatan secara keseluruhan termasuk kesehatan mental [5,11-18].

 

Hubungan Antara Nutrisi dan Kesehatan Mental

Banyak orang mungkin memahami pentingnya keseimbangan nutrisi untuk mencegah obesitas dan penyakit kronis seperti diabetes tipe 2 dan serangan jantung [19]. Namun, asupan gizi yang seimbang juga tidak kalah pentingnya untuk menjaga kesehatan mental seseorang [8]. Selain itu, obesitas dan penyakit kronis juga terkait erat dengan gangguan jiwa emosional [1,8,20-21]. Seseorang yang mempunyai berat badan berlebih dan menderita penyakit kronis biasanya lebih rentan terhadap gangguan jiwa emosional, khususnya depresi [8,10, 21]. Sebaliknya, seseorang yang menderita depresi cenderung mempunyai pola makan yang kurang sehat dan karenanya memiliki risiko obesitas dan penyakit kronis yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya [8,10,21]. Hal ini dapat dikarenakan perilaku makan yang dipengaruhi oleh emosi seseorang atau yang dikenal dengan istilah emotional eating, dimana seseorang tidak dapat membedakan antara perasaan lapar dan emosi batin yang menyebabkan orang tersebut makan secara berlebihan tanpa pikiran yang jernih [8]. Selain itu, seseorang yang mempunyai perilaku emotional eating akan cenderung menyantap makanan yang kurang bergizi dan kaya akan energi sebagai pengganti makanan yang lebih sehat dan rendah kalori [8]. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika ada keterkaitan erat antara gangguan jiwa dan pola makan yang kurang bergizi.

 

Hubungan Antara Sistem Saraf dan Sistem Pencernaan

Menjaga keseimbangan nutrisi melalui asupan makanan dan minuman yang sehat harus diterapkan untuk mempertahankan kesehatan secara keseluruhan dan kualitas hidup yang baik. Di dalam sistem pencernaan manusia, khususnya di dalam usus besar, terdapat sekitar sepuluh triliun mikroorganisme. Sesuai namanya, mikroorganisme adalah makhluk hidup yang sangat kecil seperti bakteri, jamur dan lain-lain. [16,22]. Sekumpulan mikroorganisme tersebut berjumlah sepuluh kali lebih banyak daripada sel-sel tubuh manusia dan berperan penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan seseorang [22]. Di dalam tubuh manusia terdapat komunikasi dua arah antara sistem saraf dan sistem pencernaan, yang disebut dengan istilah gut-brain axis [22]. Komunikasi tersebut dapat berlangsung melalui sel-sel perantara termasuk sel-sel hormon, sel-sel imun dan sel-sel saraf [22]. Interaksi antara kedua sistem ini mempunyai fungsi utama untuk menjaga sistem pencernaan agar dapat berfungsi secara optimal dan juga memelihara pola pikir, mood dan perilaku yang baik [22]. Perubahan di dalam salah satu sistem tersebut dapat berdampak terhadap sistem yang satunya [22]. Misalnya, perubahan di dalam komposisi mikroorganisme usus dapat berdampak terhadap suasana hati dan keadaan jiwa atau mood seseorang [6,22]. Sebaliknya, jika seseorang mengalami stres yang terus-menerus, komposisi mikroorganisme usus dapat mengalami ketidakseimbangan atau disebut dengan istilah ‘disbiosis’ [22].

 

Komposisi mikroorganisme masing-masing orang berbeda dari satu dengan yang lainnya, layaknya sidik jari manusia [22]. Selain faktor lingkungan hidup, kuantitas dan kualitas asupan gizi seseorang dari janin sampai ia beranjak dewasa sangat berpengaruh terhadap komposisi mikroorganisme yang berada di dalam sistem pencernaan [16]. Oleh karena itu, reaksi tubuh seseorang terhadap suatu makanan juga kemungkinan berbeda dengan reaksi tubuh anggota keluarganya dan rekan-rekannya. Misalnya, seseorang dapat makan kembang kol tanpa merasakan gejala apapun sedangkan rekannya mengalami sakit perut dan kembung setelah makan kembang kol. Setiap orang mempunyai preferensi dan kebutuhan gizi yang berbeda-beda. Walaupun demikian, fungsi mikroorganisme di dalam usus besar secara keseluruhan kurang lebih sama antara satu individu dengan individu lainnya dan sangat penting untuk perkembangan dan kesehatan yang optimal [22].

 

Pada umumnya, asupan gizi yang seimbang akan menjadikan komposisi mikroorganisme yang seimbang [22]. Zat-zat yang diproduksi oleh mikroorganisme tersebut juga akan berdampak baik terhadap kesehatan jasmani dan jiwani orang tersebut [22]. Pola makan yang seimbang kemungkinan mempunyai arti dan makna yang berbeda di setiap negara dan budaya [11]. Namun, secara ilmiah, pola makan yang seimbang mencangkup asupan buah dan sayur yang cukup, karbohidrat kompleks seperti biji-bijian gandum, protein rendah lemak seperti ikan, minyak zaitun, produk susu rendah lemak, makanan dan minuman yang mengandung zat antioksidan tinggi, dan membatasi asupan daging dan makanan tinggi gula dan lemak. Pola makan tersebut dapat mengurangi risiko gangguan jiwa emosional, khususnya depresi dan anxiety disorder [12-13,15,17-18]. Hal ini dikarenakan meningkatnya produksi zat-zat yang dapat berdampak positif terhadap kesehatan mental dan mood seseorang [14]. Sebaliknya, pola makan yang kurang sehat, khususnya pola makan yang identik dengan pola makan Western, dapat meningkatkan risiko gangguan jiwa emosional [14]. Pola makan ini mencangkup asupan buah dan sayur yang tidak cukup, tinggi asupan daging merah dan olahan, tinggi karbohidrat simpel seperti biji-bijian olahan, dan tinggi gula dan lemak yang dapat menyebabkan inflamasi di dalam tubuh dan membawa dampak negatif terhadap kesehatan mental seseorang [14,20].

 

Sistem pencernaan tidak hanya berfungsi untuk memastikan tubuh manusia mendapatkan energi yang cukup, tetapi juga memiliki fungsi utama sebagai pertahanan terhadap berbagai penyakit. Asupan gizi yang tidak dapat dicerna dan diserap oleh perut dan usus halus akan mengalir ke usus besar. Ampas makanan dan minuman yang mengalir ke usus besar biasanya terdiri dari serat dan akan dicerna oleh sekumpulan mikroorganisme usus besar untuk menghasilkan zat-zat yang berdampak terhadap kesehatan secara keseluruhan termasuk kesehatan mental seseorang [23]. Salah satu fungsi penting dari zat-zat yang dihasilkan adalah untuk membawa pesan kepada otak melalui berbagai jalur komunikasi yang dibahas sebelumnya. Oleh karena itu, fungsi otak, kondisi emosional dan suasana hati seseorang dapat dipengaruhi oleh kualitas asupan gizi dan zat-zat yang diproduksi oleh sekumpulan mikroorganisme di dalam usus [22]. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, makan tinggi serat seperti sayur-sayuran dan buah-buahan, akan berdampak positif terhadap kesehatan jasmani dan rohani seseorang. Sementara pola makan yang tinggi akan bahan olahan akan berdampak negatif terhadap kesehatan orang tersebut secara keseluruhan [14,17].

 

Dampak Pola Makan Yang Seimbang

Dampak positif pola makan yang seimbang terhadap kesehatan mental seseorang, dapat disebabkan oleh adanya kandungan antioksidan dan antiinflamasi yang tinggi yang dapat menjaga fungsi optimal sistem di dalam tubuh manusia, termasuk sistem saraf [14]. Asupan gizi yang seimbang tidak hanya dapat mencegah gangguan jiwa dan menjaga kesehatan dan kesejahteraan mental seseorang, tetapi juga mempunyai peranan penting dalam mengobati penyakit mental seperti depresi dan anxiety disorder [11,23]. Beberapa penelitian menemukan bahwa pasien gangguan jiwa mempunyai aktivitas radang maupun gangguan yang berlebihan di dalam tubuhnya [14]. Selain itu, beberapa studi menunjukkan dampak positif intervensi asupan gizi yang seimbang terhadap perkembangan pasien di dalam pengobatan gangguan jiwa [11,23]. Suatu penelitian yang dilakukan di Australia beberapa tahun yang lalu menemukan perkembangan perawatan penyakit depresi secara signifikan melalui intervensi nutrisi yang seimbang. Gejala penyakit depresi yang biasanya dialami oleh pasien berkurang secara drastis setelah intervensi tersebut [11]. Komposisi nutrisi kurang lebih mirip dengan pola makan orang Mediterania, yaitu pola makan yang mengandung 5-8 takaran saji biji-bijian gandum, 6 takaran saji sayuran, 3 takaran saji buah, 2-3 takaran saji produk susu rendah lemak tanpa gula tambahan, 1 takaran saji kacang-kacangan dan sedikitnya 3 takaran saji minyak zaitun setiap harinya [11]. Pola makan tersebut juga mencakup sekitar 3-4 takaran saji tumbuhan polong atau legume, sedikitnya 2 takaran saji ikan, 3-4 takaran saji daging merah, 2-3 takaran saji ayam, dan maksimum 6 takaran saji telur setiap minggunya [11]. Makanan yang kurang bergizi seperti gorengan, daging olahan, minuman tinggi gula, dan makanan cepat saji juga dibatasi sebanyaknya 3 kali seminggu [11]. Intervensi ini dilakukan selama dua belas minggu dan hasilnya sangat menjanjikan untuk diaplikasikan terhadap pasien penderita penyakit depresi dengan bimbingan tenaga kesehatan yang berwenang [11]. Selanjutnya, penelitian dari Brazil yang baru saja dipublikasikan tahun ini juga menemukan perkembangan kurangnya gejala penyakit anxiety disorder dan depresi melalui intervensi nutrisi yang seimbang dan konsumsi minyak zaitun [21]. Peserta dari penelitian tersebut mempunyai berat badan yang berlebih dan dikategorikan obesitas. Pola makan tradisional orang Brazil diterapkan pada penelitian tersebut, dimana merupakan pola makan yang mirip dengan orang Mediterania yang berbasis tumbuh-tumbuhan seperti nasi, kacang-kacangan, buah dan sayuran, berbagai jenis roti, daging rendah lemak dan produk susu. Selain itu, porsi makanan olahan juga dibatasi. Seperti penelitian yang dilakukan di Australia, penelitian ini juga dilaksanakan selama dua belas minggu. Hasil penelitian tersebut merekomendasikan bahwa pengaturan gizi dapat dijadikan sebagai manajemen tambahan untuk mengurangi gejala depresi dan anxiety disorder pada pasien gangguan jiwa [21].

 

Bagaimana dengan probiotik dan prebiotik?

Selain penemuan pentingnya pola makan yang seimbang terhadap kesehatan mental seseorang, penelitian terkini juga menemukan dampak positif makanan dan minuman probiotik dan prebiotik terhadap kesehatan [5]. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang aman untuk dikonsumsi dan jika dikonsumsi dengan cukup akan meningkatkan kesehatan seseorang [24]. Makanan probiotik biasanya adalah produk makanan yang difermentasi seperti yogurt, kimchi, acar, kombucha dan tempe. Sementara itu, prebiotik adalah zat-zat makanan yang dapat dicerna oleh sekumpulan mikroorganisme yang terletak di dalam usus besar dan mempunyai manfaat kesehatan terhadap manusia [5]. Contoh makanan prebiotik adalah antara lain bawang putih, bawang bombay, havermut dan asparagus. Penelitian tentang peran prebiotik sebagai pengobatan tambahan untuk gangguan jiwa depresi dan anxiety disorder sangat terbatas dan belum menemukan hasil yang menjanjikan [5]. Walaupun demikian, makanan prebiotik sebaiknya tidak dihindari sepenuhnya oleh penderita gangguan jiwa karena mempunyai peranan penting terhadap kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan [5]. Sebaliknya, penemuan belakangan ini menemukan dampak positif konsumsi makanan dan minuman probiotik terhadap kesehatan mental seseorang [6]. Beberapa penelitian menemukan peran probiotik dalam mengurangi aktivitas sel-sel radang di dalam tubuh dan memelihara komposisi mikroorganisme yang seimbang di dalam usus besar [5-6]. Oleh karena itu, selain asupan gizi yang seimbang, suplemen probiotik dapat menjadi pengobatan tambahan selain antidepresan dan obat-obatan lainnya yang ditentukan oleh dokter penyakit jiwa atau psikiater yang berwenang dalam mengobati pasien penyakit depresi dan anxiety disorder [6].

 

Langkah Awal Untuk Masa Depan

Kemajuan penemuan belakangan ini memberi banyak harapan terhadap pihak-pihak yang bersangkutan termasuk pasien gangguan jiwa dan keluarganya, dokter penyakit jiwa dan ahli gizi. Namun, perlu diperhatikan bahwa mekanisme asupan gizi dan dampaknya terhadap kesehatan mental adalah suatu hal yang rumit dan tidak dapat disimpulkan secara umum. Hubungan antara keseimbangan nutrisi dan kesehatan mental, terlebih untuk pengobatan tambahan penyakit depresi dan anxiety disorder merupakan suatu penemuan baru yang perlu terus dikembangkan. Selain itu, penelitian hingga saat ini belum dapat memastikan sejauh mana dampak dari keseimbangan nutrisi terhadap kesehatan mental seseorang. Berbagai penelitian memaparkan bahwa keseimbangan nutrisi adalah suatu hal yang penting untuk kesehatan secara keseluruhan termasuk kesehatan mental seseorang. Selain itu, pola makan adalah salah satu hal yang dapat dimodifikasi untuk membantu mengoptimalkan kesehatan jasmani dan rohani.

 

Memperbaiki pola makan yang kurang seimbang dapat diawali dengan mengurangi makanan cepat saji dan menggantikannya dengan biji-bijian gandum, makanan rendah gula dan lemak, serta menambahkan porsi sayur-sayuran dan buah-buahan. Masa pandemi dapat menjadi sebuah kesempatan untuk menghentikan kebiasaan yang buruk seperti mengkonsumsi makanan dan minuman cepat saji yang mengandung gula dan lemak yang berlebih, dan memulai kebiasaan yang baik seperti belajar memasak makanan sehat.

 

Konflik Kepentingan

‘Penulis menyatakan bahwa artikel/tulisan ini tidak berhubungan dengan pihak manapun, baik komersial maupun finansial, yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Tulisan ini merupakan kontribusi penulis untuk Mediccation (Medical Talk and Communication)’.

 

Daftar Singkatan

Mediccation: Medical Talk and Communication

WHO: World Health Organization

RISKESDAS: Riset Kesehatan Dasar
Referensi

[1] World Health Organization. Mental health: strengthening our response [Internet]. Switzerland: World Health Organization; 2018 [updated 2018 Mar 30; cited 2020 Nov 19]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-health-strengthening-our-response

[2] World Health Organization. Depression and Other Common Mental Health Disorders: Global Health Estimates. Switzerland: World Health Organization; 2017. Report No: WHO/MSD/MER/2017.2

[3] Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Nasional RISKESDAS 2018. Indonesia: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2018 Dec.

[4] Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Riset Kesehatan Dasar: RISKESDAS 2013. Indonesia: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2013 Dec 1.

[5] Liu RT, Walsh RFL, Sheehan AE. Prebiotics and probiotics for depression and anxiety: A systematic review and meta-analysis of controlled clinical trials. Neurosci Biobehav Rev. 2019 Apr 17;102:13-23.

[6] Gambaro E, Gramaglia C, Baldon G, Chirico E, Martelli M, Renolfi A, Zeppegno P. “Gut–brain axis”: Review of the role of the probiotics in anxiety and depressive disorders. Brain Behav. 2020 Feb 17;10:e01803.

[7] American Psychiatric Association. What Are Anxiety Disorders? [Internet]. Washington: American Psychiatric Association; 2017 [updated 2020; cited 2020 Nov 19]. Available from: https://www.psychiatry.org/patients-families/anxiety-disorders/what-are-anxiety-disorders

[8] Smith DG, Bot M, Brouwer IA, Visser M, Penninx BWJH. Diet quality in persons with and without depressive and anxiety disorders. J Psychiatr Res. 2018; 106:1-7.

[9] Albert PR. Why is depression more prevalent in women? J Psychiatry Neurosci. 2015;40(4):219-221.

[10] Centers for Disease Control and Prevention. What is mental illness? [Internet]. United States: Department of Health & Human Services; 2018 [updated 2018; cited 2020 Nov 19]. Available from: https://www.cdc.gov/mentalhealth/learn/index.htm#:~:text=Mental%20health%20includes%20our%20emotional,others%2C%20and%20make%20healthy%20choices.&text=Mental%20health%20is%20important%20at,childhood%20and%20adolescence%20through%20adulthood

[11] Jacka FN, O’Neil A, Opie R, Itsiopoulos C, Cotton S, Mohebbi M, Castle D, Dash S, Mihalopoulos C, Chatterton ML, Brazionis L, Dean OM, Hodge AM, Berk M. A randomised controlled trial of dietary improvement for adults with major depression (the ‘SMILES’ trial). BMC Med. 2017 Jan 30;15(1):23.

[12] Li Y, Lv MR, Wei YJ, Sun L, Zhang JX, Zhang HG, Li B. Dietary patterns and depression risk: A meta-analysis. Psychiatry Res. 2017 Jul;253:373-382.

[13] Molendijk M, Molerod P, Sánchez-Pedreñod FO, Van der Doesa W, Martínez-Gonzálezc MA. Diet quality and depression risk: A systematic review and dose-response meta-analysis of prospective studies. J Affect Disord. 2018;226:346-354.

[14] Firth J, Veronese N, Cotter J, Shivappa N, Hebert JR, Eel C, Smith L, Stubbs B, Jackson SE, Sarris J. What Is the Role of Dietary Inflammation in Severe Mental Illness? A Review of Observational and Experimental Findings. Front Psychiatry. 2019 May 15;10:350.

[15] Schweren LJS, Larsson H, Vinke PC, Li L, Grimstvedt K, Arias-Vasquez A, Haavik J, Hartman CA. Diet quality, stress and common mental health problems: A cohort study of 121,008 adults. Clin Nutr. 2020.

[16] Misiak B, Łoniewskib I, Marliczc W, Frydeckad D, Szulce A, Rudzkif L, Samochowiecg J. The HPA axis dysregulation in severe mental illness: Can we shift the blame T to gut microbiota? Prog Neuropsychopharmacol Biol Psychiatry. 2020;102:109951.

[17] Opie RS, O’Neil A, Itsiopoulos C, Jacka FN. The impact of whole-of-diet interventions on depression and anxiety: a systematic review of randomised controlled trials. Public Health Nutr. 2014;18(11):2074-2093.

[18] Teasdale S, MÖrkl S, Müller-Stierlin AS. Nutritional psychiatry in the treatment of psychotic disorders: Current hypotheses and research challenges. Brain Behav Immun. 2020;5:100070.

[19] Centers for Disease Control and Prevention. Poor Nutrition [Internet]. United States: Department of Health & Human Services; 2020 [updated 2020; cited 2020 Nov 19]. Available from: https://www.cdc.gov/chronicdisease/resources/publications/factsheets/nutrition.htm#:~:text=A%20healthy%20diet%20helps%20children,2%20diabetes%2C%20and%20certain%20cancers.

[20] Owen L, Corfe B. The role of diet and nutrition on mental health and wellbeing. Proc Nutr Soc. 2017;76:425–426.

[21] Batista de Sousa Canheta A, Silva e Alves de Carvalho Santos A, Daneiso de Souza J, Silveira EA. Traditional Brazilian diet and extra virgin olive oil reduce symptoms of anxiety and depression in individuals with severe obesity: Randomized clinical trial. Clin Nutr. 2020; S0261-5614(20):30283-1.

[22] Palma GD, Collins SM, Bercik P, Verdu EF. The microbiota–gut–brain axis in gastrointestinal disorders: stressed bugs, stressed brain or both? J Physiol. 2014;592:2989–2997.

[23] Firth J, Marx W, Dash S, Carney R, Teasdale SB, Solmi M, Stubbs B, Schuch FB, Carvalho AF, Jacka F, Sarris J. The Effects of Dietary Improvement on Symptoms of Depression and Anxiety: A Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials. Psychosom Med. 2019 Apr;81:265-280.

[24] Hill C, Guarner F, Reid G, Gibson GR, Merenstein DJ, Morelli L, Canani RB, Flint HJ, Salminen S, Calder PC, Sanders ME. The International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics consensus statement on the scope and appropriate use of the term probiotic. Nat Rev Gastroenterol Hepatol. 2014;11:506-514.

 

Profil Penulis

Email: claradarlene6@gmail.com

Clara merupakan seorang lulusan ahli gizi. Beliau menyelesaikan program Bachelor of Health Sciences, Nutrition Major dan Master of Dietetics Studies di The University of Queensland di Brisbane, Australia.

 

Scientific Editor : dr.Sarah Chairani Zakirah. Head of Research and Scientific Division of Mediccation. email : sarahchairanizakirah93@gmail.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *