fbpx

Kesehatan Kulit Lansia selama Masa Pandemi

Marsha Kurniawan1

1Dokter Umum, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Indonesia

*Korespondensi:

Marsha Kurniawan.  Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Email:marshakurniawan@gmail.com

 

Severe acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernafasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut coronavirus disease (COVID-19).1 Saat ini penyakit ini merupakan ancaman bagi kesehatan dunia. World Heatlh Organization (WHO) telah menyatakan bahwa penyakit ini merupakan suatu Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMDD)/ Public Health Emergency of International Corncern (PHRIC) pada tanggal 30 Januari 2020, dan pada tanggal 11 Maret 2020, WHO menetapkan COVID-19 sebagai suatu pandemi.1 Berdasarkan sumber data WHO dan PHEOC Kemenkes tanggal 18 November 2020, saat ini 220 negara di dinuia telah terinfeksi, kasus terkonfirmasi global mencapai 54.771.888 kasus dengan 1.324.249 kasus kematian. Indonesia sendiri tercatat 478.720 kasus terkonfirmasi dengan 15.503 kasus kematian, dan 306 wilayah dengan transmisi lokal.2 Virus ini berdampak dalam segala sisi kehidupan, pemerintah Indonesia sendiri telah mengambil beberapa langkah untuk pencegahan dan pengendalian COVID-19 seperti meningkatkan surveilans kesehatan masyarakat termasuk investigasi, pelacakan kasus, dan mempercepat pemeriksaan sampel, kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan menerapkan perilaku adaptasi baru yaitu meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti rajin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir atau menggunakan cairan antiseptik, menggunakan masker, menjaga jarak minimal 1 meter (physical distancing), dan mematuhi protokol kesehatan yang diberlakukan di tempat umum.1

 Salah satu kelompok rentan yang mudah terinfeksi virus ini adalah kelompok populasi lansia.1 Saat ini kelompok lansia juga dianjurkan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat untuk mencegah transmisi virus seperti sering mencuci tangan dan tidak berpergian keluar rumah, sayangnya tindakan pencegahan ini juga menyebabkan timbulnya masalah baru pada kulit lansia yang secara umum memiliki fungsi barrier atau perlindungan yang sudah menurun.3

 

Perubahan struktur kulit pada lansia

Berdasarkan definisi WHO, kelompok lansia merupakan populasi yang telah menginjak usia ≥ 60 tahun.4 Lansia erat kaitannya dengan proses penuaan. Penuaan merupakan suatu proses fisiologis yang berhubungan dengan perubahan anatomis, fisik, dan psikososial.5 Proses penuaan pada kulit disebabkan oleh pengaruh luar (ekstrinsik) seperti radiasi sinar UV oleh matahari, polusi udara, merokok dan pengaruh dalam (intrinsik) seperti genetik dan metabolisme.5,6 Kedua proses tersebut menyebabkan kulit mengalami penipisan, kerutan halus, kulit kering, kehilangan elastisitas (kendur).5,6 Proses penuaan juga mengakibatkan perubahan pada struktur kulit, terutama pada fungsi barrier dan proteksi mekanis, pemulihan luka yang lebih lama, dan pengurangan sekresi keringat dan sebum (minyak).4,6 Fungsi barrier ditemukan menurun pada lansia dibandingkan kulit dewasa (usia 20-30 tahun), menyebabkan meningkatnya penguapan kulit berlebihan (dalam bahasa medis transepidermal water loss), kulit menjadi kering dan memudahkan kulit lansia mengalami iritasi terutama bila terpajan bahan kimia/ bahan iritan.6

Secara anatomis, lapisan kulit terutama lapisan kulit bagian atas bagian atas, tengah, dan bawah (epidermis, dermis, dan subkutis) mengalami beberapa perubahan diantaranya5,6

Lapisan epidermis (lapisan atas kulit)5,6

  • Ketebalan epidermis menurun terutama di area yang terekspos, seperti wajah, leher, dada bagian atas, tangan dan lengan.
  • Penurunan lapisan lemak di antara sel stratum korneum (sel yang menyusun lapisan atas kulit)
  • Penurunan kecepatan pergantian kulit
  • Penurunan Natural Moisturizing Factor (Faktor kelembapan kulit alami)

Lapisan dermis (lapisan tengah kulit)5,6

  • Penurunan fungsi kelenjar sebasea (minyak) dan kelenjar keringat
  • Penurunan jumlah pembuluh darah dan aliran darah
  • Sintesis kolagen menurun
  • Perubahan struktur dan penurunan jumlah kelenjar keringat
  • Jaringan elastin berkurang

Lapisan subkutis (lapisan bawah kulit) : terjadi penurunan lemak subkutan termasuk di area wajah, tangan, dan kaki.5,6

Masalah kulit yang dijumpai selama masa pandemi

Selama masa pandemi, dengan perubahan situasi yang terjadi dimana terjadi peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat termasuk cuci tangan dan penggunaan hand sanitizer.3 Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga merekomendasikan untuk meningkatkan frekuensi cuci tangan dan penggunaan hand sanitizer berbasis alkohol minimal 60% bila tidak tersedia sabun dan air mengalir.3 Mencuci tangan terlalu sering serta penggunaan hand sanitizer menyebabkan kulit menjadi kering dan mudah mengalami iritasi terutama pada kelompok lansia yang pada dasarnya kulitnya memang cenderung mudah kering karena perubahan struktur kulit.

Fungsi barrier pada kulit mengalami penurunan pada usia lansia (terutama ≥80 tahun) dibandingkan kelompok usia muda (20-30 tahun), sehingga meningkatkan penguapan air pada kulit dan memudahkan iritasi akibat bahan kimia.3 Mencuci tangan terutama dengan penggunaan sabun antiseptik dan alkohol menyebabkan kulit kehilangan lapisan lemak natural sehingga terjadi peningkatan penguapan air dan kulit menjadi kering serta kehilangan sifat barrier nya sehingga memudahkan kulit terpapar dengan bahan alegen (yang menimbulkan alergi), bahan iritan, serta patogen.3,7

Kulit kering merupakan masalah umum yang terjadi pada lansia ditandai dengan kulit yang kasar, bersisik, pecah-pecah. dan kulit kering ini menyebabkan keluhan gatal yang sering dikeluhkan lansia.8 Saat ini berdasarkan anjuran pemerintah masyarakat diminta untuk tinggal dirumah termasuk kelompok lansia, sehingga mereka lebih sering berada pada ruangan yang menggunakan AC dengan kelembaban rendah yang menyebabkan penguapan air pada kulit meningkat dan kulit menjadi lebih kering.3 Kulit kering menyebabkan mudah terpaparnya dengan bahan- bahan yang dapat mengiritasi kulit sehingga timbul suatu dermatitis kontak iritan (dikenal sebagai eksim oleh awam) merupakan suatu jenis eksim yang timbul karena kontak dengan bahan kimia iritan seperti sabun, detergent, larutan kimia pada desinfektan, ditandai dengan kemerahan pada kulit, bintil-bintil, kulit mengelupas, dan pecah-pecah.3,8 Selain itu akibat kondisi stres emosional juga dapat menyebabkan timbulnya kembali penyakit kulit yang telah ada sebelumnya seperti eksim seboroik, eksim atopik, rosasea, neurodermatitis, herpes zoster, dan penyakit kulit lainnya.3

Himbauan pemerintah mengenai tidak berpergian keluar bila tidak diperlukan selama masa pandemi menyebabkan berkurangnya aktivitas fisik diluar rumah dan menyebabkan gaya hidup lansia cenderung lebih tidak aktif dan sering duduk atau berbaring, sehingga menimbulkan risiko timbulnya dermatitis/eksim statis yang disebabkan gangguan aliran vena balik di area kedua kaki.3

Cara menjaga kulit lansia tetap sehat selama masa pandemi

Kulit yang sehat merupakan kulit yang memiliki tekstur halus, warna merata, tidak kering, kencang, kenyal, dan bebas dari penyakit kulit.6 Pada dasarnya kulit lansia memang sudah mengalami perubahan struktur sehingga tampak menjadi lebih kering dan memiliki kerutan.6 Keadaan kulit kering ini diperburuk dengan kondisi pandemi saat ini, dimana terjadi peningkatan paparan kulit terhadap bahan-bahan iritan seperti sabun, desinfektan, dan hand sanitizer.3,8 

American Assosiation of Dermatology memberikan beberapa anjuran untuk mengatasi kulit kering terutama akibat peningkatan frekuensi cuci tangan diantaranya:7

  1. Cuci tangan dengan menggunakan air sedikit hangat dan sabun minimal selama 20 detik. Sabun yang dianjurkan merupakan tipe synthetic detergent (syndet) tanpa tambahan pewangi atau pewarna dan hipoalergenik (memiliki logo fragrance free dan dye free). Synthetic detergent merupakan sabun yang memiliki pH sekitar 5,5 – 7 yang sesuai dengan pH kulit. Contoh bahan aktif yang terdapat pada sabun tersebut sodium lauroly sarcosinate, cocamide diethanolamine, sodium lauroyl oat amino acids, disodium cocoamphodiacetate, decyl glucoside, sodium cocoyl glutamate, lauryl glucoside, dan cetrimonium chloride. Sabun alkali atau dengan pH sekitar 9-10 termasuk sabun dengan komponen antiseptik yang tidak dianjurkan digunakan karena turut menghilangkan lapisan lemak pada lapisan kulit yang menyebabkan kulit lebih kering.7
  2. Keringkan tangan dengan cara menepuk-nepuk dengan handuk atau kain bersih (jangan menggosok kulit) dan biarkan sedikit air (tidak terlalu kering).7
  3. Gunakan pelembab bentuk cream atau ointment yang memiliki kandungan seperti mineral oil, petrolatum, urea, glycerin, ceramide segera setelah mencuci tangan. Dianjurkan menggunakan pelembab dalam bentuk tube dibandingkan dalam bentuk botol / jar untuk mencegah kontaminasi produk. Pada saat malam hari penggunaan pelembab boleh ditutup dengan plastic wrap agar pelembab lebih meresap ke dalam kulit. Untuk area tangan dianjurkan sebanyak dua ruas ujung jari tangan (two finger tip unit)7
  4. Bila menggunakan hand sanitizer disarankan yang memiliki label hipoalergenik dan hindari yang mengandung bahan pewangi atau pewarna dan dianjurkan untuk mencari hand sanitizer yang ditambahkan kandungan pelembab. Setelah menggunakan hand sanitizer dianjurkan langsung menggunakan pelembab.7
  5. Bila akan melakukan pekerjaan seperti mencuci baju, peralatan makan dianjurkan menggunakan sarung tangan agar kulit terhindar dari bahan kimia iritan.7

Dalam hal mandi dan mencuci muka, juga dianjurkan hal serupa yaitu menggunakan air hangat (bukan air panas), sabun dengan pH sesuai pH kulit, fragrance free dan hipoalergenik, hindari penggunaan sabun antiseptik, waktu mandi dianjurkan tidak terlalu lama cukup sekitar 10 menit.9 Selesai mandi keringkan dengan menepuk-nepuk menggunakan handuk, dan saat kulit masih lembab segera aplikasikan pelembab sesudah mandi dua kali sehari.9 Lingkungan dengan kelembaban rendah juga memicu kulit kering, sehingga dianjurkan untuk menjaga kelembapan ruangan dengan menggunakan humidifier.9

 

Bagi lansia yang sudah mengalami eksim, dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter untuk terapi lebih lanjut karena kulit lansia yang sensitif tidak dianjurkan untuk membeli krim atau salep sendiri.3 Kompres dingin dapat dilakukan untuk mengurangi rasa gatal. Untuk mengurangi kejadian eksim statis, lansia dianjurkan tetap beraktivitas, tidak terlalu banyak duduk atau tiduran, menggunakan stoking elastis dan sering mengangkat kaki untuk memperbaiki aliran pembuluh darah vena.3

Lansia juga dianjurkan untuk tetap mengonsumsi gizi seimbang (karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral).10 Protein diperlukan untuk pembuatan kolagen dan mempercepat pemulihan kulit dari luka, dapat didapatkan dari sumber hewani (daging merah, ikan, telur) atau sumber nabati (kacang almond, alpukat, olive oil).10,11 Vitamin A, C, E, dan D, dan karoten merupakan antioksidan yang berperan untuk melawan radikal bebas penyebab penuaan kulit (contoh strawberry, kiwi, jeruk, tomat, apel, anggur, wortel dan lainnya).10,11 Mineral seperti zinc juga dperlukan untuk membantu pematangan kolagen, banyak terdapat pada telur dan seafood.11 Dianjurkan untuk menghindari makanan dengan kadar indeks glikemik tinggi (makanan yang menaikan kadar gula darah secara cepat) seperti kue, minuman bersoda atau minuman kaleng, junkfood karena dapat mempercepat proses penuaan.10 Konsumsi air putih secara cukup minimal 5 gelas dalam sehari juga memperbaiki rehidrasi kulit dan baik untuk kesehatan sistem organ pada tubuh.11

Oleh karena itu perlu dilakukan beberapa pencegahan agar kulit lansia tetap sehat dan tidak bertambah kering dengan menghindari penggunaan sabun antiseptik dan menggunakan sabun dengan pH mendekati pH kulit, menggunakan pelembab setelah mandi atau mencuci tangan, mengonsumsi gizi seimbang dan air putih yang cukup.

Konflik Kepentingan

Artikel/tulisan ini tidak berhubungan dengan pihak manapun, baik komersial maupun finansial, yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Tulisan ini merupakan kontribusi penulis untuk Mediccation (Medical Talk and Communication).

 

Daftar Singkatan :

Mediccation    : Medical Talk and Communication

 

Daftar Pustaka

  1. Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19) Revisi ke-5. 5 ed: Kementerian Kesehatan RI; 2020.
  2. COVID-19 S. Beranda | Satgas Penanganan COVID-19 [Internet]. covid19.go.id. 2020 [cited 18 November 2020]. Available from: https://covid19.go.id/
  3. Golpanian R, Yosipovitch G. Geriatric Skin Care in the Era of COVID ‐19. Journal of the American Geriatrics Society. 2020;68(8):1680-1682.
  4. Ageing and health [Internet]. WHO.int. 2020 [cited 18 November 2020]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/ageing-and-health
  5. Farage M, Miller K, Elsner P, Maibach H. Characteristics of the Aging Skin. Advances in Wound Care. 2013;2(1):5-10.
  6. Obagi Z. Obagi Skin Health Restoration and Rejuvenation. 2nd ed. 2015; p 12-13
  7. Rundle, C. W., Presley, C. L., Militello, M., Barber, C., Powell, D. L., Jacob, S. E., Atwater, A. R., Watsky, K. L., Yu, J., & Dunnick, C. A. (2020). Hand hygiene during COVID-19: Recommendations from the American Contact Dermatitis Society. Journal of the American Academy of Dermatology, 83(6), 1730–1737. https://doi.org/10.1016/j.jaad.2020.07.057
  8. Masoumeh Mohamadi M, Goodarzi A, Aryannejad A, Fattahi N, Alizadeh-Khoei M, Miri S et al. Geriatric Challenges in the New Coronavirus Disease-19 (COVID-19) Pandemic: A Systematic Review. MJIRI. 2020; 34(1).
  9. Ask a Dermatologist: Do long, hot showers damage your skin? [Internet]. Aad.org. 2020 [cited 19 November 2020]. Available from: https://www.aad.org/public/everyday-care/skin-care-basics/dry/hot-showers-damage-skin
  10. Addor, Flavia Alvim Sant’Anna. Beyond Photoaging: Additional Factors Involved in the Process of Skin Aging. Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology 11 (September 20, 2018): 437–43. https://doi.org/10.2147/CCID.S177448.
  11. Pappas, Apostolos, Aikaterini Liakou, and Christos C. Zouboulis. “Nutrition and Skin.” Reviews in Endocrine and Metabolic Disorders 17, no. 3 (September 1, 2016): 443–48. https://doi.org/10.1007/s11154-016-9374-z.

Profil Penulis

Email : marshakurniawan@gmail.com

Marsha Kurniawan merupakan seorang dokter umum lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya tahun 2019. Saat ini sedang tergabung dalam Meddication dan fokus dalam bidang penulisan artikel terutama berhubungan dengan ilmu kesehatan kulit dan kelamin.

 

Scientific Editor : dr.Sarah Chairani Zakirah. Head of Research and Scientific Division of Mediccation. email : sarahchairanizakirah93@gmail.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *